Kartini Malu Pada Dinda ?

Kartini pada hari ini, 21 April, diapresiasi dan diperingati. Sedangkan Dinda, beberapa hari lalu dikecam, dibully oleh netizen karena komentarnya yang pedas pada ibu hamil. Keduanya perempuan Indonesia, manakah dari kedua contoh perempuan Indonesia ini yang akan kita ceritakan pada anak – anak?

 

Ya tentu Kartini dong ya.

Tapi sadarkah kita, kita pun semacam Dinda, yang sering acuh tak acuh pada sesama yang membutuhkan. Berapa sering kita cuek melihat orang kesusahan menyeberang?  Cuek aja lihat ibu tua berdiri sedangkan kita duduk? Bodo amat sama orang yang susah jalan karena kita takut telat ke kantor? Hidup selalu terburu – buru, cepat – cepat dengan semua alasannya.

Apakah sekarang kita menjadi orang tua yang cuek, kurang empati? Apakah masing – masing dari kita nggak sadar  hidup dalam keegoisan, individualisme tinggi, ih ngeri banget. Lama – lama hati kita jadi seperti robot, nggak ada “rasa”, terlalu sibuk dengan diri sendiri.

Mendengar obrolan antara Sarah Sechan dengan Hasjim Djalal – Ayah dari Dino Pati Djalal  di NET TV, sungguh menenangkan. Beliau menyebut satu nilai luhur dengan 3 kecintaan. Kecintaan terhadap keluarga, kecintaan pada masyarakat , kecintaan pada Tuhan dan ajaranNya.

Kecintaan pada keluarga. Guru yang paling utama dan pertama adalah orang tua, ajarilah anak nilai empati dari hal yang paling kecil, sayang, ucapan sopan, perhatian pada seluruh anggota keluarga.  Ingat lho yaaa, perilaku yang ditiru anak bukan yang baik – baik saja. Saat kita cuek dan bossy pada si mbak, anak juga melihat, merekam. Saat kita santun, sopan, beretika, berempati, dia juga belajar dari kita, orang tuanya.

Kecintaan pada masyarakat, komunitas, bangsa, negara nggak harus melulu terjun ke partai politik yaaaa  😀

Kecintaan pada Tuhan dan ajaranNya. Agama manapun pasti mengajarkan cinta kasih pada sesama. Jika relasi kita dekat dengan Tuhan, ada semacam suara nurani yang bilang dan kontrol hidup kita kok, ini baik, ini buruk. Kalau kita takut melakukannya berarti kita masih punya nurani.

Satu lagi nilai yaitu empati, tepa selira, mengukur segala sesuatu disesuaikan dengan ukuran diri kita. Alangkah baik jika dalam hidup, kita nggak melakukan apa yang sekiranya kita nggak ingin diperlakukan. Suka nggak diperlakukan seperti itu, jika nggak ya hentikan. Ukuran diri sendiri adalah ukuran yang pas untuk mengukur tenggang rasa kita.

Saya yakin jika seandainya anak kita sungguh cinta keluarga, masyarakat dan Tuhan, plus tepa selira, melihat ibu hamil berdiri di komuterline,tanpa diminta pun rasa empatinya muncul, bagaimana seandainya  kita yang hamil dan harus berdiri. Pun si bumil, jika masih mempunyai empati, dia takkan “meminta” kursi. Semuanya akan damai, penuh cinta.

 

Mana yang akan kita ajarkan pada anak?

Hidup penuh ego, lalu kita menumbuhkan anak berpribadi egois, tanpa empati?

atau

mau investasi mahal bagi anak mulai dari sekarang menanamkan nilai – nilai empati, berbagi, cinta kasih sesama, tepa selira?

Ya, menjadi orang tua adalah proses belajar seumur hidup, kalau kita ingin mengajarkan anak berbuat baik, kita harus lebih dahulu kan?

Terus ajarkan pada anak untuk menghargai dan mencintai keluarga, masyarakat dan Tuhan.

Kini Kartini nggak perlu malu pada Dinda, dia tersenyum bangga.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s