Jalan ditutup!!!

Weekend biasanya kami punya rencana untuk pergi keluar rumah, entah lari pagi di Halim, cari sarapan, belanja di pasar tradisional,  pergi ke rumah Oma di Condet atau ke rumah Mbah di Klender.

Pokoknya Sabtu Minggu saatnya keluarga.

Minggu ini kami mempunyai rencana meeting diluar dengan seorang teman untuk membicarakan produk baru, wall sticker, jam 7 malam.

Rencana tinggal rencana, karena jalan rumah kami ditutup! Tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Ya, ditutup karena hajatan. Geregetan ya, semua rencana harus disesuaikan dan jadi batal. Terpaksa kami harus memutar arah dan melewati jalan yang kecil dan mepet, karena satu – satunya akses ditutup, makin banyak kendaraan, baik mobil dan motor yang lewat jalan sempit itu. Bisa dibayangkan betapa crowdednya. Agak sedikit bete.

Kenapa ya orang suka menutup jalan umum, jalan kan untuk hajat hidup orang banyak?

Tahukah keluarga yang menutup jalan itu kalau ada tukang sampah lingkungan yang harus memutar jauh untuk menuju tempat pembuangan akhir diujung jalan sana? Padahal gerobaknya sarat muatan dan jalan yang dipilih ada turunan yang curam.

Jalan ditutup untuk hajatan keluarga, nonton bareng, atau untuk berdoa, hheeiii…. kami harus toleransi dan Anda?

Coba bayangkan ya, kalau saya sedang hamil besar, saatnya melahirkan, detik – detik menjelang kelahiran akan datang, dan harus segera dibawa ke rumah sakit daan.. ttaaraaa… jalan ditutup! lewaat maannaa? mau lahiran dimana?

Atau bila salah seorang warga harus segera mendapat penanganan darurat dan akses jalan ditutup karena sedang ada pesta, adilkah?

Menurut saya tidak adil sama sekali.

Jika alasan acara keluarga, resepsi, yang biasa terjadi, kenapa tidak menggunakan fasilitas yang diperuntukan, gedung pertemuan misalnya, aula masjid, saya yakin harganya ga lebih mahal dari sewa tenda.

Mungkin mereka harus banyak belajar dari Papa saya. Papa punya prinsip ga mau ganggu orang, kalau saya tidak suka jalan ditutup dan merasa terganggu, saya tidak akan melakukannya.

Prinsip ini yang terus dipertahankan Papa, sampai saat acara pernikahan Noni, adik saya, Papa dan kami sekeluarga bersikeras tidak mau menggunakan tenda dan menutup jalan barang setengah saja. Walaupun harus bertentangan dengan beberapa panitia yang mengusulkan dengan keras harus pakai tenda untuk menyambut keluarga besan saat acara Seserahan. Papa bilang, ya harus diterima kapasitas rumah kami hanya segini ya disesuaikan saja, jangan mengorbankan kepentingan orang lain. Akhirnya Tuhan memberikan jalan terbaik.

Tidak perlu pasang tenda dan tutup jalan, acara berjalan lancar dan kapasitas rumah memadai.

Pointnya adalah, kesadaran tenggang rasa, toleransi dan kebersamaan, memikirkan kepetingan orang lain dan empati.

Kemanakah itu semua?

Kita semua harus belajar dan tegas, jangan permisive dengan hal – hal yang salah, yang jadi kebisaaan dan akhirnya jadi kebenaran.

Jadi jika ada kerabat atau sahabat yang dalam waktu dekat akan mengadakan hajatan dan berencana menutup jalan, saya sangat menghargai jika mempertimbangkan solusi lain.

Jadi sekarang, please.. .. jalannya dibuka dong 😀

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s